Senin, 12 Desember 2016

Biografi Ibnu 'Asyur


KITAB TAFSĪR AL-TAḤRĪR WA AL-TANWĪR KARYA IBNU ‘ASYŪR DAN KONTRIBUSINYA DALAM KEILMUAN TAFSIR KONTEMPORER
Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Bahtsul Kutub Tafsir

Dosen Pengampu:
Agus Salim, Lc. M. Th. I









Disusun Oleh:
Difa’ul Umam
Ali Ma’mun

PROGRAM STUDI  ILMU AL QURAN DAN TAFSIR
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL ANWAR
GONDANROJO KALIPANG SARANG REMBANG 59274 JAWA TENGAH
TAHUN AJARAN 2016
KITAB TAFSĪR AL-TAḤRĪR WA AL-TANWĪR KARYA IBNU ‘ASYŪR DAN KONTRIBUSINYA DALAM KEILMUAN TAFSIR KONTEMPORER
Oleh: Difa’ul Umam dan Ali Ma’mun
I.         Pendahuluan
Ilmu tafsir terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Ilmu tafsir muncul dengan corak dan ragam latar belakang pendidikan para mufassir. Dalam perkembangan muncul corak tafsir fiqhi, falsafi, shufi, adab al-ijtima’iy, dan lain-lain. Pada masa belakangan ini muncul banyak kitab tafsir yang menggunakan corak adab al-ijtima’iy.
Tafsir adab al-Ijtima’iy adalah tafsir yang menyingkapkan balāghah, keindahan bahasa al-Qur’an dan ketelitian redaksinya, kemudian mengaitkan kandungan ayat-ayat al-Quran dengan sunnatullāh dan aturan hidup kemasyarakatan, yang berguna untuk memecahkan problematika umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya. Salah satunya adalah al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyari  yang merupakan kitab tafsir dengan corak adab al-Ijtima’iy menjadi kitab rujukan bagi banyak mufassir, termasuk ibn ‘Asyūr banyak mengutip dari kitab al-Kasysyāf ini. Karena sampai sekarang kitab tersebut menjadi kitab terbaik jika dilihat dari corak adab al-Ijtima’iy.
Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr merupakan salah seorang mufassir zaman modern dengan kitab tafsir yang berjudul al-Tahrīr wa al-Tanwīr. Dalam kitab tafsirnya ini, Ibn ‘Asyūr mendukung kehadiran corak tafsir ini, karena dalam menafsirkan suatu ayat al-Qur’an, Ibn ‘Asyūr banyak memberi keterangan dengan keindahan bahasa serta gramatikal bahasa dalam mengungkap ayat al-Qur’an.
Berikut dalam tulisan ini akan memperkenalkan tentang Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr karya Muhammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr. Dimulai dengan pengenalan terhadap pengarang kitab, lalu pengenalan seputar kitab tafsir dengan menjelaskan metodologi, corak dan karakteristiknya kitab tersebut.



II.      Pembahasan
A.    Biografi al-Thāhir ibn ‘Asyūr[1]
Nama lengkap beliau adalah Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr al-Tūnisiy. Beliau lahir pada tahun 1879 M. atau 1296 H. dan wafat pada tanggal 13 Rajab tahun 1973 M. Atau 1393 H. di Tunisia. Ibn ‘Asyūr dibesarkan dalam keluarga religious, terhormat, sekaligus pemikir, dan di lingkungan kondusif  bagi seorang yang cinta ilmu. Sejak usia muda beliau telah menghafal dan memahami al-Qur’an serta mempelajari bahasa Perancis dan mempelajari ilmu lainnya.
Beliau belajar al-Qur’an, baik hafalan, tajwid, maupun qira’at-nya di sekitar tempat tinggalnya. Setelah beliau hafal al-Qur’an, yakni tepatnya tahun 1892 M. dalam usia yang relatif masih muda, beliau melanjutkan belajarnya di Lembaga al-Zaitūnah sampai ahli dan unggul dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu yang berkaitan dengan tujuan (maqāshid al-syāri’ah) seperti tafsīr al-Qur’ān, qirā’at, mushthalaḥ al-ḥadits ‘ilmu al-kalām, dan ushūl al-fiqh, maupun ilmu-ilmu yang berfungsi sebagai sarana wasīlah seperti naḥwu, sharf, balaghah, dan mantiq.
Adapun Lembaga al-Zaitūnah ini dalam sejarahnya adalah sebuah masjid yang dijadikan pusat pembelajaran yang bermadzhab Māliki. Lembaga tersebut setingkat dengan al-Azhar.  Universitas ini merupakan lembaga pendidikan tertua yang didirikan di dunia Arab, Universitas al-Zaitūnah didirikan pada tahun 737 M (120 H) yang berawal dari sebuah kelompok belajar di Masjid Jāmi’ al-Zaitunah yang terus berlangsung sampai sekarang.[2] Beliau juga mempelajari bahasa Arab asing, matematika, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial. Setelah beliau lulus pada tahun 1896 M. beliau tetap belajar di lembaga tersebut untuk beberapa tahun, lalu beliau mencari ilmu dengan belajar kepada ulama-ulama di Tunisia, hingga akhirnya beliau kembali ke Lembaga al-Zaitūnah sebagai mudarris tingkat pertama pada tahun 1903 M. Selain belajar kepada ayahnya, Syaikh Muhammad bin ‘Asyūr, ia juga belajar kepada tokoh-tokoh terkemuka di kampung halamannya seperti Syaikh Ibrāhīm al-Riyahi, Syaikh Muḥammad bin al-Khaujah, Syaikh ‘Asyūr al-Sahiliy, dan Syaikh Muḥammad al-Khadr.
Ibnu ’Asyūr memiliki peran yang sangat penting dalam menggerakkan nasionalisme di Tunisia. Beliau hidup sezaman dengan ulama ternama di Mesir, Muḥammad al-Khadr Ḥusain al-Tūnisiy yang menempati kedudukan Masyayikhat al-Azhar (Imam Besar al-Azhar). Keduanya adalah teman seperjuangan, ulama yang sangat luar biasa, memiliki tingkat keimanan yang tinggi, sama-sama pernah dijebloskan ke dalam bui lantaran karena mempertahankan pemahaman dan ideologinya serta menanggung penderitaan yang sangat berat demi memperjuangkan negara dan agama. Pada akhirnya Muḥammad al-Khadr ditakdirkan oleh Allah menjadi mufti Mesir, sedangkan Ibnu ‘Asyūr sendiri menjadi Syeikh Besar Islam di Tunisia. Sebelum menjadi Syekh Besar, beliau pernah mendapat kepercayaan menjadi Qādhiy (hakim) di Tunisia yang kemudian diangkat menjadi seorang penentu fatwa keagamaan (mufti) di negara tersebut.[3]
Ibnu ‘Asyūr termasuk ulama yang sangat produktif. Terbukti dengan karya-karya yang beliau tulis dari berbagai macam disiplin ilmu seperti tafsir, maqāsid al-Syarī’ah, fiqh, ushūl fiqh, dan lain sebagainya. Di antatra karyanya adalah: Alaisa al-Subḥ bi Qarib, Maqāsid al-Syarī’ah al-Islāmiyyah, Uslū al-Nizam al-Ijtima’i fi al-Islām, Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, al-Waqf wa Asaruhu fi al-Islām, Uslu al-Insyā’i wa al-Khitābah, Mujiz al-Balāgah, Hasyiyyah ala al-Qatr, Syarh ‘alā Burdah al-Busyiriy, al-Gaits al-Ifriqi, Hasyiyyah ’ala al-Mahalli ’ala jam’ al-Jawami’. Hasyiyah ’ala Ibn Sa’id al-Usymuni, Hasyiyyah ‘ala Syarh al-Isām li Risālati al-Bayān, Ta’liq ‘ala mā Qarā’ahu min Shaḥīḥ Muslim, al-Ijtihād al-Maqāsid, al-Istinsakh fi Dou’i al-Maqāsid, al-Maqāsid al-Syar’iyyah: Ta’rifuha, Amtsilatuha, Ḥujjiyyatuha, al-Maqasid al-Syar’iyyah: wa Sillatuha bi al ‘Adillah al-Syar’iyyah wa al-Mushtalahat al-Ushūliyyah, al-Maslahah al-Mursalah, al-Istiqra’ wa Dauruhu fi Ma’rifati al-Maqāsid, al-Munāsabah al-Syar’iyyah, al-Maqāsid al-Syar’iyyah fi al-Ḥajj.

B.     Sekilas Tentang Kitab Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr
Kitab tafsir milik Ibn ‘Asyūr bernama al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (Taḥrīr al-Ma’nā al-Syadīd wa Tanwīr al-‘Aql al-Jadīd fi Tafsīr al-Qur’ān al-Majīd). Secara tegas, Ibnu ‘Asyūr mengatakan bahwa penulisan karyanya itu merupakan puncak keinginannya untuk menulis sebuah karya tafsir yang mengandung kemaslahatan dalam hal duniawi maupun agama, serta mengandung sisi kebenaran yang kuat, yang mencakup ilmu-ilmu secara komperehensif, serta mengungkap sisi kebalaghahan al-Qur’an untuk menjelaskan percikan ilmu dan istinbat hukum darinya. Dan juga menjelaskan akhlak-akhlak yang mulia darinya.[4]
Ibnu ‘Asyūr dalam menulis karyanya banyak merujuk kitab-kitab tafsir klasik seperti al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyari, al-Muḥarrar al-Wajīz karya Ibnu ‘Atiyyah, Mafātiḥ al-Ghaib karya Fakhruddin al-Razi, Tafsīr al-Baidhawi, Tafsīr al-Alūsiy, serta komentar at-Thībiy’, al-Qazwiniy, al-Qutbh, dan at-Taftāzāniy terhadap al-Kasysyāf beserta kitab-kitab tafsir lainnya.[5] Namun yang paling banyak ia kutip adalah kitab al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyari, meskipun ia tidak sepenuhnya sependapat dengan apa yang dikemukakan Zamakhsyari dalam kitabnya. Oleh karena itu, dalam kitab tafsir ini banyak dijumpai penjelasan-penjelasan tafsir dari sisi linguistiknya yang merujuk Tafsīr al-Kasysyāf. Dalam pengantarnya, Ibnu ‘Asyūr menyatakan, “Dalam tafsir yang saya tulis ini, saya fokuskan pada penjelasan tentang berbagai macam kemukjizatan al-Qur’an serta mengungkap kelembutan sisi balagahah bahasa Arab dan uslūb-uslūb penggunaaannya. Dan juga saya menjelaskan hubungan ketersambungan antara satu ayat dengan yang lain.”[6]
Selanjutnya, Ibnu ‘Asyūr membagi  muqaddimahnya hingga panjang lebar ke dalam sepuluh bagian. Secara keseluruhan pengantarnya berisi tentang landasan pemikiran Ibnu ‘Asyūr tentang ilmu al-Qur’an. Kesepuluh muqaddimah tersebut antara lain, muqaddimah pertama membahas Tafsīr dan Ta’wīl, muqaddimah kedua pembahasan tentang ilmu bantu tafsir, muqaddimah ketiga mengenai keabsahan tafsir selain bi al-ma’tsūr, sekaligus makna tafsīr bi al-ra’yi, muqaddimah keempat mengenai tujuan tafsir, muqaddimah kelima tentang asbāb al-nuzūl, muqaddimah keenam tentang qirā’āt, muqaddimah ketujuh mengenai kisah-kisah dalam al-Qur’an, muqaddimah kedelapan tentang sesuatu yang berhubungan dengan nama-nama al-Qur’an beserta ayat-ayat dan surat-suratnya serta tartib surat, muqaddimah kesembilan tentang makna global al-Qur’an, dan muqaddimah kesepuluh tentang i’jāz al-Qur’an.[7]
C.     Metode Penafsiran Kitab Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr
Tafsir Ibnu ‘Asyūr ini, menggunakan metode taḥliliy dengan kecenderungan tafsir bi al-ra’yi. Dikatakan menggunakan metode taḥliliy karena Ibnu ‘Asyūr dalam menulis tafsirnya menguraikan ayat demi ayat sesuai dengan urutan yang tertera dalam mushaf. kemudian ia menjelaskan kata per kata dengan sangat detail mengenai makna kata, kedudukan, uslūb bahasa Arabnya serta aspek-aspek lainnya yang sangat luas, misalnya ketika menjelaskan lafaz (الحمد لله) dalam surat al-Fātihah, ia menghabiskan empat belas halaman dengan penjelasannya yang sangat rinci dan meluas.[8] Selanjutnya, dikatakan memiliki kecenderungan tafsir bi al-ra’yi, karena Ibnu ‘Asyūr dalam menjelaskan uraian tafsirnya banyak menggunakan logika, yakni logika kebahasaan. Selain itu, secara eksplisit, ia mengatakan bahwa dalam menulis tafsirnya, Ibnu ‘Asyūr ingin mengungkap sisi kebalagahan al- Qur’an. Sedangkan corak penafsiran tafsir ini merupakan tafsir Adab al-Ijtima’i, yakni karya tafsir yang mengungkap ketinggian bahasa al-Qur’an serta mendialogkannya dengan realitas sosial kemasyarakatan.
Adapun metode teknis atau langkah-langkah penulisan tafsir yang ditempuh oleh Ibnu ‘Asyūr ini dapat diuraikan sebagai berikut.
1.      Menjelaskan nama, jumlah, serta spesifikasi makkiy-madaniy sebuah surat. Dalam menjelaskan nama surat, Ibnu ‘Asyūr biasanya merujuk pada sebuah hadis, perkataan sahabat, tabiin, atau beberapa mufassir klasik seperti al-Qurtubi, al-Suyuthi, dan lain sebagainya. Misalnya ketika menjelaskan surat nama surat al-Zumar, Ibnu ‘Asyūr,mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dari ‘Aisyah.
سُمِّيَتْ سُورَةَ الزُّمَرِ مِنْ عَهْدِ النَّبِيءِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدْ رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الزُّمَرَ وَبَنِي إِسْرَائِيلَ.[9]
2.      Menguraikan tujuan-tujuan al-Qur’an yang terdapat dalam sebuah surat. Ibnu ‘Asyūr, di setiap awal penjelasan surat dalam tafsirnya menguraikan tujuan-tujuan yang terkandung dalam sebuah surat tersebut.[10]
3.      Mengemukakan asbāb al-nuzūl ayat. Setelah menjelasakan nama surat dan hal-hal yang berkaitan dengannya, Ibnu ‘Asyūr, mengungkap asbāb al-nuzūl  untuk ayat-ayat yang memang memiliki asbāb al-nuzūl. Dalam menjelaskan asbāb al-nuzūl ini, Ibnu ‘Asyūr, adakalanya mengutip sebuah hadis dari Nabi atau kisah yang disampaikan oleh para sahabat.
4.      Menganalisis makna serta kedudukan kata dalam bahasa Arab. Analisis kata per kata dan menjelaskan ketinggian nilai bahasa al-Qur’an adalah metode yang paling sering digunakan oleh Ibnu ‘Asyūr, dalam tafsirnya. Bahkan di setiap menjelaskan suatu ayat, Ibnu ‘Asyūr, tidak lepas dari analisis kata yang merupakan ciri khas dari tafsirnya.
D.    Kontribusi Tafsir Ibnu ‘Asyūr dalam Pengembangan Tafsir
Jika ditilik dari perkembangan tafsir di era kontemporer, karya tafsir Ibnu ‘Asyūr ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan gayanya yang khas, tafsir ini telah menyumbangkan beberapa pemikiran yang cukup inovatif. Sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Mustaqim dalam karyanya Epistemologi Tafsir Kontemporer, bahwa paradigma tafsir kontemporer meniscayakan kritisisme, objektivitas, dan keterbukaan bahwa produk penafsiran itu tidaklah kebal dari kritik.[11]


E.     Contoh Penafsiran Ibnu ‘Asyūr
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ، قُمْ فَأَنْذِرْ.[12]
نُودِيَ النَّبِيءُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَصْفِهِ فِي حَالَةٍ خَاصَّةٍ تَلَبَّسَ بِهَا حِينَ نُزُولِ السُّورَةِ. وَهِيَ أَنَّهُ لَمَّا رَأَى الْمَلَكَ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرِقَ مِنْ رُؤْيَتِهِ فَرَجَعَ إِلَى خَدِيجَةَ فَقَالَ: دَثِّرُونِي دَثِّرُونِي، أَوْ قَالَ: زَمِّلُونِي، أَوْ قَالَ: زَمِّلُونِي فَدَثِّرُونِي، عَلَى اخْتِلَافِ الرِّوَايَاتِ، وَالْجَمْعُ بَيْنَهَا ظَاهِرٌ فَدَثَّرَتْهُ فَنَزَلَتْ: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ.وَقَدْ مَضَى عِنْدَ قَوْلِهِ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ [الْمُزَّمِّلُ: ۱] مَا فِي هَذَا النِّدَاءِ مِنَ التَّكْرِمَةِ وَالتَّلَطُّفِ.
والْمُدَّثِّرُ: اسْمُ فَاعِلٍ مِنْ تَدَثَّرَ، إِذَا لَبِسَ الدِّثَارَ، فَأَصْلُهُ الْمُتَدَثِّرُ أُدْغِمَتِ التَّاءُ فِي الدَّالِ لِتَقَارُبِهِمَا فِي النُّطْقِ كَمَا وَقَعَ فِي فِعْلِ ادَّعَى.[13]
Penafsiran Ibnu ‘Asyūr tentang surat al-Muddatstsir ayat 1-2, Penafsiran beliau yaitu “Allah memanggil Nabi Muḥammad dengan suatu sifat yang khusus baginya yang berada di langit dan bumi, kemudian malaikat merukyah Nabi, dan kemudian Nabi pulang menemui Khajidah dengan gemetar dan Nabi berkata: datsiruni-datsiruni, atau zammiluni. Ada yang mengatakan zammiluni fadatstsiruni, pada perbedaan riwayat yaitu panggilan yang mulia untuk Nabi Muhammad SAW.
Al-mudatsir menjadi isim fa’il dari kata tadatstsara yang berarti apabila memakai selimut. Asal kata al-mudatsir adalah al-mutadatstsiru dengan mengidzghamkan atau menghilangkan huruf ta’, yang menunujukkan kedekatak antara huruf ta’ dan huruf dzal, serta mempermudah dalam pengucapan lafal.
            Dalam penafsiran beliau pada surat Al-Muddatstsir 1-2 yaitu beliau menyebutkan asbabun nuzulnya sebelu menafsirkan ayat, kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan kata perkata yaitu lafal ayat-ayat dalam surat tersebut secara panjang lebar. Di dalam panafsirannya tersebut juga terdapat munasabah surat, yakni surat al-Muddatstsir dengan surat al-Muzzammil dimana awal kedua surat tersebut terdapat nida’ yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw.

ذلِكَ الْكِتابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدىً لِلْمُتَّقِينَ.[14]
وَاسْمُ الْإِشَارَة مُبْتَدأ و (الْكتاب) خَبَرًا. وَعَلَى الْأَظْهَرِ تَكُونُ الْإِشَارَةُ إِلَى الْقُرْآنِ الْمَعْرُوفِ لَدَيْهِمْ يَوْمَئِذٍ وَاسْمُ الْإِشَارَة مُبْتَدأ و (الْكتاب) بَدَلٌ وَخَبَرُهُ مَا بَعْدَهُ، فَالْإِشَارَةُ إِلَى (الْكِتَابِ) النَّازِلِ بِالْفِعْلِ وَهِيَ السُّوَرُ الْمُتَقَدِّمَةُ عَلَى سُورَةِ الْبَقَرَةِ لِأَنَّ كُلَّ مَا نَزَلْ مِنَ الْقُرْآنِ فَهُوَ الْمُعَبَّرُ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْقُرْآنُ وَيَنْضَمُّ إِلَيْهِ مَا يَلْحَقُ بِهِ، فَيَكُونُ (الْكِتَابُ) عَلَى هَذَا الْوَجْهِ أُطْلِقَ حَقِيقَةً عَلَى مَا كُتِبَ بِالْفِعْلِ، وَيَكُونُ قَوْلُهُ (الْكِتَابِ) عَلَى هَذَا الْوَجْهِ خَبَرًا عَنِ اسْمِ الْإِشَارَةِ، وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ الْإِشَارَةُ إِلَى جَمِيعِ الْقُرْآنِ مَا نَزَلَ مِنْهُ وَمَا سَيَنْزِلُ لِأَنَّ نُزُولَهُ مُتَرَقَّبٌ فَهُوَ حَاضِرٌ فِي الْأَذْهَانِ فَشَبَّهَ بِالْحَاضِرِ فِي الْعِيَانَ، فَالتَّعْرِيفُ فِيهِ لِلْعَهْدِ التَّقْدِيرِيِّ وَالْإِشَارَةُ إِلَيْهِ لِلْحُضُورِ التَّقْدِيرِيِّ فَيَكُونُ قَوْلُهُ (الْكِتَابَ) حِينَئِذٍ بَدَلًا أَوْ بَيَانًا مِنْ ذلِكَ وَالْخَبَرُ هُوَ لَا رَيْبَ فِيهِ.[15]
Penafsiran Ibnu ‘Asyūr dalam awal surat al-Baqarah dijelaskan secara panjang lebar tentang lafal al-kitāb. Pada penafsiran tersebut dijelaskan isim isyārah (ذلِكَ) menjadi mubtada’ sedangkan khabarnya adalah lafal al-kitāb dan setrusnya lafal al-kitāb dijelaskan secara panjang lebar baik dari segi bahasa maupun sastra yang menjadi ciri khas tafsirnya.
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.[16]
وَأَمَّا جِلْدُ الْمَيْتَةِ فَلَهُ شِبْهٌ مِنْ جِهَةٍ ظَاهِرِهِ كَشِبْهِ الشَّعْرِ وَالصُّوفِ، وَمِنْ جِهَةِ بَاطِنِهِ كَشِبْهِ اللَّحْمِ، وَلِتَعَارُضِ هَذَيْنِ الشِّبْهَيْنِ اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي الِانْتِفَاعِ بِجِلْدِ الْمَيْتَةِ (۱) إِذَا دُبِغَ فَقَالَ أَحْمَدُ ابْن حَنْبَلٍ: لَا يَطْهُرُ جِلْدُ الْمَيْتَةِ بِالدَّبْغِ، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيُّ: يَطْهُرُ بِالدَّبْغِ مَا عَدَا جِلْدَ الْخِنْزِيرِ لِأَنَّهُ مُحَرَّمُ الْعَيْنِ، وَنُسِبَ هَذَا إِلَى الزُّهْرِيِّ، وَأَلْحَقَ الشَّافِعِيُّ جِلْدَ الْكَلْبِ بِجِلْدِ الْخِنْزِيرِ، وَقَالَ مَالِكٌ يَطْهُرُ ظَاهِرُ الْجِلْدِ بِالدَّبْغِ لِأَنَّهُ يَصِيرُ صُلْبًا لَا يُدَاخِلُهُ مَا يُجَاوِرُهُ، وَأَمَّا بَاطِنُهُ فَلَا يَطْهُرُ بِالدَّبْغِ وَلِذَلِكَ قَالَ: يَجُوزُ اسْتِعْمَالُ جِلْدِ الْمَيْتَةِ الْمَدْبُوغِ فِي غَيْرِ وَضْعِ الْمَاءِ فِيهِ، وَمَنَعَ أَنْ يُصَلَّى بِهِ أَوْ عَلَيْهِ، وَقَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ أَرْجَحُ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ النَّبِيءَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى شَاةً مَيْتَةً كَانَتْ لِمَيْمُونَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَ «هَلَّا أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ[17]»[18]
Ibnu ‘Asyūr dinilai sebagai ulama yang objektif. Meskipun ia menganut mazhab Māliki, ia tetap menekankan budaya objektivitas dalam karyanya. Sebagaimana diungkap di awal bahwa salah satu ciri penafsiran kontemporer adalah penafsiran non-sektarian atau dengan kata lain seorang penafsir tidak boleh terjebak dalam kungkungan mazhab atau kelompok tertentu. Ibnu ‘Asyūr meskipun bermazhab Māliki, ia tetap berusaha objektif dalam karya tafsirnya. Barangkali inilah salah satu kontribusi Ibnu ‘Asyūr dalam pengembangan tafsir, bahwa seseorang penafsir sah-sah saja menganut suatu mazhab asalkan mengetahui dalil-dalil dari suatu hukum atau suatu pandangan dari mazhab yang dianutnya serta selalu melakukan penelitian ulang dan memilih pendapat yang paling benar berdasarkan dalil-dalil yang ada. Salah satu sikap objektif yang ditunjukkan oleh Ibnu ‘Asyūr dalam karya tafsirnya adalah ketika beliau mentarjiḥ (mengunggulkan) mazhab yang berseberangann dengan mazhabnya sendiri.
Contohnya adalah ketika beliau menjelaskan kata (الْمَيْتَةَ) dalam surat al-Baqarah ayat 173 di atas, setelah menjelaskan keharaman memakai bangkai binatang, Ibnu ‘Asyūr masuk kepada penjelasan penggunaan kulit binatang. Ibnu ‘Asyūr menguraikan pendapat keempat Imam mazhab yakni Hanbali, Syāfi’iy, Hanafi dan Māliki. Imām Aḥmad ibn Hanbal mengatakan bahwa kulit bangkai binatang tidak bisa suci meskipun disamak (dibersihkan dengan bahan pekat seperti daun pohon ara). Imām Syāfi’iy mengatakan bahwa kulit binatang bisa suci apabila dibersihkan (disamak) kecuali kulit babi dan anjing. Sedangkan Imām Abū Hanīfah mengatakan bahwa kulit bangkai itu bisa suci asal dibersihkan (disamak) kecuali daging babi. Pendapat Imām Abū Ḥanīfah ini disandarkan kepada sebuah hadis dari al-Zuhriy sedangkan yang lain tidak ada sandaran hadisnya.
Di akhir penjelasannya, Ibnu ‘Asyūr mengatakan bahwa pendapat yang paling kuat dari keempat mazhab tersebut adalah pendapat Imām Abū Ḥanīfah karena disandarkan kepada sebuah riwayat hadis. Sedangkan pendapat yang lain tidak ada dalil hadisnya, termasuk Imām Māliki yang notabene dianut oleh Ibnu ‘Asyūr. Dari penjelasan ini dapat dikatakan bahwa Ibnu ‘Asyūr dengan karya tafsirnya memberikan andil yang cukup signifikan dalam hal objektifitas menafsirkan al-Qur’an. Jadi untuk bersikap objektif, seorang mufassir tidak perlu meninggalkan mazhab yang dianutnya akan tetapi sikap objektif itu bisa dicapai dengan ilmu yang memadai serta tekad yang kuat untuk mengungkap kebenaran al-Qur’an sebagaimana tercermin dari sikap Ibnu ‘Asyūr dalam tafsirnya.
F.      Kelebihan dan KekuranganTafsir Karya Ibnu ‘Asyūr
Di antara kelebihan Kitab Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr adalah bahasan dari kata-kata al-Qur’an yang sangat luas dan terperinci. Pembahasan di dalamnya disesuaikan dengan pokok bahasan yang ada dalam al-Qur’an. Apabila ayat tersebut berhubungan dengan ilmu fiqih, maka Ibnu ‘Asyūr menjelaskan permasalahan fiqih beserta perbincangan ulama mengenainya. Ibnu ‘Asyūr dalam membahas masalah fiqih biasanya menguraikan semua pendapat ulama’ dan kemudian memilih yang paling kuat berdasarkan dalil yang ia ajukan. Selain itu, tafsir ini memiliki kelebihan dalam hal pembahasan tentang keindahan susunan bahasa al-Qur’an. Ibnu ‘Asyūr juga seringkali mengaitkan bahasannya dengan masalah akhlak. Hal ini menjadikan tafsir ini sebagai pedoman bagi manusia dalam berakhlak baik dengan Tuhan, manusia, serta makhluk hidup di sekitar kita.
Sedangkan kekurangan dari karya tafsir ini sama dengan karya tafsir dengan metode taḥliliy lainnya, yakni terkesan bertele-tele. Penjelasannya terlalu melebar sehingga poin yang ingin disampaikan kadang sulit ditangkap. Kitab ini sangat cocok untuk kalangan yang sudah memiliki ilmu pengetahuan yang cukup memadai untuk keperluan akademis. Untuk masyarakat awam, kitab ini akan terasa sulit dipahami dan tidak praktis karena penjelasannya terlalu luas. Kekurangan lain dari tafsir karya Ibnu ‘Asyūr adalah banyak kutipan-kutipan hadis yang tidak disertai dengan penyebutan kualitas hadis sehingga hadis-hadis yang dijadikan rujukan masih perlu dilihat kembali apakah hadis tersebut berkedudukan shaḥīḥ atau dla’īf dan lain sebagainya.

III.   Kesimpulan
Kitab tafsir Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr merupakan tafsir kontemporer yang dikarang oleh Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr al-Tūnisiy. Beliau merupakan seorang ulama di Tunisia. Metode Penafsiran yang digunakan Ibnu ‘Asyūr dalam kitab tafsir Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr adalah metode taḥliliy karena ibnu ‘Asyūr dalam menafsirkan ayat al-Qur’an secara terperinci dimulai dari ayat pertama (al-Fātiḥah) sampai akhir sesuai urutan musḥafi. Corak penafsiran dalam kitab tafsir ini adalah dengan tafsir bi al-ra’yi yaitu dengan menggunakan aspek kebahasaan. Walaupun demikian beliau juga, menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, dengan Hadits, perkataan sahabat pandangan ulama, dan ke semua itu adalah untuk menjadi pendukung pendapat mufassir. Sedangkan pendekatan yang beliau gunakan adalah adabi atau sastra, karena beliau lebih banyak menjelaskan kajian kebahasaan yaitu gramatikal dan sastra, beliau juga lebih menjelaskan kata perkata dalam lafazh Al-Qur’an dan mengungkapkan makna-makna suatu mufradāt dalam ayat-ayat Al-Qur’an. 




Daftar Pustaka
Al-Qur’ān al-Karīm
Abdul Mustaqim. EpistemologiTafsir Kontemporer. Yogyakarta: LKIS. 2010. hal. 84.
Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūral-Tūnisiy.
 al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (Tahrīr al-Ma’nā al-Sadīd wa Tanwīr al-‘Aql al-Jadīd min Tafsīr Kitāb al-Majīd). Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah Li al-Nasyr. 1984.
Munī’ ibn ‘Abd al-Ḥalīm Maḥmūd. Manāhij al-Mufassirīn. Kairo: Dār al-Kitāb al-Miṣriy. 2000.
Muslim ibn al-Ḥajjāj Abū al-Ḥasan al-Qusyairiy al-Naisābūriy. al-Musnad al-Mukhtashar bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl ilā Rasūlillāh Shalla Allah`Alaihi wa Sallam. Beirūt: Dār Iḥyā’ al-Turāts al-‘Arabiy, ttp
https://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Zaitunah


[1] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūral-Tūnisiy, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (Tahrīr al-Ma’nā al-Sadīd wa Tanwīr al-‘Aql al-Jadīd min Tafsīr Kitāb al-Majīd, (Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah Li al-Nasyr, 1984).
[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Zaitunah
[3] Munī’ ibn ‘Abd al-Ḥalīm Maḥmūd, Manāhij al-Mufassirīn, (Kairo: Dār al-Kitāb al-Miṣriy, 2000), hal. 333-334.
[4] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 1, hal. 5.
[5] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 1, hal. 7.
[6] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 1, hal. 8
[7] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 1, hal. 5-124.
[8] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 1, hal. 152-166
[9] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 23, hal. 311.
[10] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 23, hal. 312-313.
[11] Abdul Mustaqim, EpistemologiTafsir Kontemporer, (Yogyakarta: LKIS, 2010), hal. 84.
[12] QS. al-Muddatstsir [74]: 1-2.
[13] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 29, hal. 294.
[14] QS. al-Baqarah [2]: 2.
[15] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 1, hal. 219.
[16] QS. al-Baqarah [2]: 173
[17] Lihat hadis tersebut pada karya, Muslim ibn al-Ḥajjāj Abū al-Ḥasan al-Qusyairiy al-Naisābūriy, al-Musnad al-Mukhtashar bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl ilā Rasūlillāh Shalla Allah`Alaihi wa Sallam, no. 363 (Beirūt: Dār Iḥyā’ al-Turāts al-‘Arabiy, ttp), juz 1, hal. 276
[18] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 2, hal. 112.

1 komentar:

  1. Hotel and Casino Near Santa Barbara, California - MapYRO
    Find the 보령 출장샵 cheapest 아산 출장마사지 and quickest way to 의정부 출장마사지 get 양주 출장샵 from Golden 논산 출장마사지 Gate Station Casino to Harrah's Resort Santa Barbara, CA. Cross Streets. From Santa Barbara, CA.

    BalasHapus