KITAB TAFSĪR AL-TAḤRĪR WA AL-TANWĪR KARYA IBNU ‘ASYŪR DAN
KONTRIBUSINYA DALAM KEILMUAN TAFSIR KONTEMPORER
Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Bahtsul Kutub Tafsir
Dosen Pengampu:
Agus Salim, Lc. M. Th. I
Disusun Oleh:
Difa’ul Umam
Ali Ma’mun
PROGRAM STUDI
ILMU AL QURAN DAN TAFSIR
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL ANWAR
GONDANROJO KALIPANG SARANG REMBANG 59274 JAWA
TENGAH
TAHUN AJARAN 2016
KITAB TAFSĪR AL-TAḤRĪR WA AL-TANWĪR KARYA IBNU ‘ASYŪR DAN
KONTRIBUSINYA DALAM KEILMUAN TAFSIR KONTEMPORER
Oleh: Difa’ul Umam dan Ali
Ma’mun
I.
Pendahuluan
Ilmu tafsir terus berkembang mengikuti kemajuan
zaman. Ilmu tafsir muncul dengan corak dan ragam latar belakang pendidikan para
mufassir. Dalam perkembangan muncul corak tafsir
fiqhi, falsafi, shufi, adab al-ijtima’iy, dan
lain-lain. Pada masa belakangan ini muncul banyak
kitab tafsir yang menggunakan corak adab al-ijtima’iy.
Tafsir adab al-Ijtima’iy adalah tafsir yang menyingkapkan balāghah, keindahan bahasa
al-Qur’an dan ketelitian redaksinya, kemudian mengaitkan kandungan ayat-ayat
al-Quran dengan sunnatullāh dan aturan hidup kemasyarakatan, yang
berguna untuk memecahkan problematika umat Islam khususnya dan umat manusia
pada umumnya. Salah satunya adalah al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyari yang merupakan kitab tafsir dengan corak adab al-Ijtima’iy menjadi kitab
rujukan bagi banyak mufassir, termasuk ibn ‘Asyūr banyak
mengutip dari kitab al-Kasysyāf ini. Karena
sampai sekarang kitab tersebut menjadi kitab terbaik jika dilihat dari corak adab al-Ijtima’iy.
Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr merupakan salah seorang mufassir zaman modern dengan kitab tafsir yang berjudul al-Tahrīr wa al-Tanwīr.
Dalam kitab tafsirnya ini, Ibn ‘Asyūr mendukung kehadiran
corak tafsir ini, karena dalam menafsirkan suatu ayat al-Qur’an, Ibn ‘Asyūr banyak memberi keterangan dengan keindahan bahasa serta
gramatikal bahasa dalam mengungkap ayat al-Qur’an.
Berikut dalam tulisan ini akan memperkenalkan
tentang Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr karya Muhammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr. Dimulai dengan pengenalan terhadap pengarang kitab, lalu pengenalan seputar kitab tafsir dengan menjelaskan metodologi, corak dan karakteristiknya kitab
tersebut.
II. Pembahasan
Nama lengkap beliau adalah Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr al-Tūnisiy.
Beliau lahir pada tahun 1879 M. atau 1296 H. dan wafat pada tanggal 13 Rajab
tahun 1973 M. Atau 1393 H. di Tunisia. Ibn ‘Asyūr dibesarkan dalam keluarga religious,
terhormat, sekaligus
pemikir, dan di lingkungan kondusif bagi seorang yang cinta ilmu. Sejak usia muda beliau telah menghafal dan
memahami al-Qur’an serta mempelajari bahasa Perancis dan mempelajari ilmu
lainnya.
Beliau belajar al-Qur’an, baik hafalan,
tajwid, maupun qira’at-nya di sekitar tempat tinggalnya. Setelah beliau hafal
al-Qur’an, yakni tepatnya tahun 1892 M. dalam usia yang relatif masih muda, beliau
melanjutkan belajarnya di Lembaga al-Zaitūnah sampai ahli dan unggul dalam
berbagai disiplin ilmu, baik ilmu yang berkaitan dengan tujuan (maqāshid
al-syāri’ah) seperti tafsīr al-Qur’ān, qirā’at, mushthalaḥ al-ḥadits
‘ilmu al-kalām, dan ushūl al-fiqh, maupun ilmu-ilmu yang berfungsi
sebagai sarana wasīlah seperti naḥwu, sharf, balaghah, dan mantiq.
Adapun Lembaga al-Zaitūnah ini dalam
sejarahnya adalah sebuah masjid yang dijadikan pusat pembelajaran yang
bermadzhab Māliki. Lembaga tersebut setingkat dengan al-Azhar. Universitas ini merupakan lembaga
pendidikan tertua yang didirikan di dunia Arab, Universitas al-Zaitūnah
didirikan pada tahun 737 M (120 H)
yang berawal dari sebuah kelompok belajar di Masjid Jāmi’ al-Zaitunah yang
terus berlangsung sampai sekarang.[2]
Beliau juga mempelajari bahasa Arab asing,
matematika, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial. Setelah beliau
lulus pada tahun 1896 M. beliau tetap belajar di lembaga tersebut untuk
beberapa tahun, lalu beliau mencari ilmu dengan belajar kepada ulama-ulama di
Tunisia, hingga akhirnya beliau kembali ke Lembaga al-Zaitūnah sebagai mudarris
tingkat pertama pada tahun 1903 M. Selain belajar kepada ayahnya, Syaikh
Muhammad bin ‘Asyūr, ia juga belajar kepada tokoh-tokoh terkemuka di kampung halamannya
seperti Syaikh Ibrāhīm al-Riyahi, Syaikh Muḥammad bin al-Khaujah, Syaikh ‘Asyūr
al-Sahiliy, dan Syaikh Muḥammad al-Khadr.
Ibnu ’Asyūr memiliki peran yang sangat penting
dalam menggerakkan nasionalisme di Tunisia. Beliau hidup sezaman dengan ulama
ternama di Mesir, Muḥammad al-Khadr Ḥusain al-Tūnisiy yang menempati kedudukan Masyayikhat al-Azhar (Imam Besar al-Azhar). Keduanya adalah teman seperjuangan, ulama yang
sangat luar biasa, memiliki tingkat keimanan yang tinggi, sama-sama pernah dijebloskan ke dalam bui lantaran karena mempertahankan pemahaman dan
ideologinya serta menanggung penderitaan yang sangat berat demi memperjuangkan
negara dan agama. Pada akhirnya Muḥammad al-Khadr ditakdirkan oleh Allah menjadi mufti Mesir, sedangkan Ibnu ‘Asyūr sendiri
menjadi Syeikh Besar Islam di Tunisia. Sebelum menjadi Syekh Besar, beliau
pernah mendapat kepercayaan menjadi Qādhiy (hakim) di Tunisia yang
kemudian diangkat menjadi seorang penentu fatwa keagamaan (mufti) di
negara tersebut.[3]
Ibnu ‘Asyūr termasuk ulama yang sangat
produktif. Terbukti dengan karya-karya yang beliau tulis dari berbagai macam
disiplin ilmu seperti tafsir, maqāsid al-Syarī’ah, fiqh, ushūl fiqh,
dan lain sebagainya. Di antatra karyanya adalah: Alaisa al-Subḥ bi Qarib,
Maqāsid al-Syarī’ah al-Islāmiyyah, Uslū al-Nizam al-Ijtima’i fi al-Islām,
Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, al-Waqf wa Asaruhu fi al-Islām, Uslu al-Insyā’i
wa al-Khitābah, Mujiz al-Balāgah, Hasyiyyah ala al-Qatr, Syarh ‘alā Burdah
al-Busyiriy, al-Gaits al-Ifriqi, Hasyiyyah ’ala al-Mahalli ’ala jam’
al-Jawami’. Hasyiyah ’ala Ibn Sa’id al-Usymuni, Hasyiyyah ‘ala Syarh al-Isām li
Risālati al-Bayān, Ta’liq ‘ala mā Qarā’ahu min Shaḥīḥ Muslim, al-Ijtihād
al-Maqāsid, al-Istinsakh fi Dou’i al-Maqāsid, al-Maqāsid al-Syar’iyyah:
Ta’rifuha, Amtsilatuha, Ḥujjiyyatuha, al-Maqasid al-Syar’iyyah: wa Sillatuha bi
al ‘Adillah al-Syar’iyyah wa al-Mushtalahat al-Ushūliyyah, al-Maslahah al-Mursalah,
al-Istiqra’ wa Dauruhu fi Ma’rifati al-Maqāsid, al-Munāsabah al-Syar’iyyah,
al-Maqāsid al-Syar’iyyah fi al-Ḥajj.
B.
Sekilas Tentang
Kitab Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr
Kitab tafsir milik Ibn ‘Asyūr bernama al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (Taḥrīr al-Ma’nā al-Syadīd wa Tanwīr al-‘Aql
al-Jadīd fi Tafsīr al-Qur’ān al-Majīd). Secara tegas, Ibnu ‘Asyūr mengatakan bahwa penulisan karyanya itu
merupakan puncak keinginannya untuk menulis sebuah karya tafsir yang mengandung
kemaslahatan dalam hal duniawi maupun agama, serta mengandung sisi kebenaran
yang kuat, yang mencakup ilmu-ilmu secara komperehensif, serta mengungkap sisi
kebalaghahan al-Qur’an untuk menjelaskan percikan ilmu dan istinbat
hukum darinya. Dan juga menjelaskan akhlak-akhlak yang mulia darinya.[4]
Ibnu ‘Asyūr dalam menulis karyanya banyak
merujuk kitab-kitab tafsir klasik seperti al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyari,
al-Muḥarrar al-Wajīz karya Ibnu ‘Atiyyah, Mafātiḥ al-Ghaib karya
Fakhruddin al-Razi, Tafsīr al-Baidhawi, Tafsīr al-Alūsiy, serta komentar
at-Thībiy’, al-Qazwiniy, al-Qutbh, dan at-Taftāzāniy terhadap al-Kasysyāf
beserta kitab-kitab tafsir lainnya.[5] Namun
yang paling banyak ia kutip adalah kitab al-Kasysyāf karya al-Zamakhsyari,
meskipun ia tidak sepenuhnya sependapat dengan apa yang dikemukakan Zamakhsyari
dalam kitabnya. Oleh karena itu, dalam kitab tafsir ini banyak dijumpai penjelasan-penjelasan
tafsir dari sisi linguistiknya yang merujuk Tafsīr al-Kasysyāf. Dalam
pengantarnya, Ibnu ‘Asyūr menyatakan, “Dalam tafsir yang saya tulis ini, saya
fokuskan pada penjelasan tentang berbagai macam kemukjizatan al-Qur’an serta
mengungkap kelembutan sisi balagahah bahasa Arab dan uslūb-uslūb
penggunaaannya. Dan juga saya menjelaskan hubungan ketersambungan antara satu
ayat dengan yang lain.”[6]
Selanjutnya, Ibnu ‘Asyūr membagi muqaddimahnya hingga panjang lebar ke dalam sepuluh bagian. Secara keseluruhan pengantarnya berisi
tentang landasan pemikiran Ibnu ‘Asyūr tentang ilmu
al-Qur’an. Kesepuluh muqaddimah tersebut antara lain, muqaddimah
pertama membahas Tafsīr dan Ta’wīl, muqaddimah kedua pembahasan
tentang ilmu bantu tafsir, muqaddimah ketiga mengenai keabsahan tafsir selain bi al-ma’tsūr, sekaligus makna tafsīr bi al-ra’yi, muqaddimah
keempat mengenai tujuan tafsir, muqaddimah kelima tentang asbāb
al-nuzūl, muqaddimah keenam tentang qirā’āt,
muqaddimah ketujuh mengenai kisah-kisah dalam al-Qur’an, muqaddimah
kedelapan tentang sesuatu yang berhubungan dengan nama-nama al-Qur’an beserta
ayat-ayat dan surat-suratnya serta tartib surat, muqaddimah kesembilan tentang makna global al-Qur’an, dan muqaddimah
kesepuluh tentang i’jāz al-Qur’an.[7]
C.
Metode
Penafsiran Kitab Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr
Tafsir Ibnu ‘Asyūr ini, menggunakan
metode taḥliliy dengan kecenderungan tafsir bi al-ra’yi. Dikatakan
menggunakan metode taḥliliy karena Ibnu ‘Asyūr dalam menulis tafsirnya menguraikan ayat demi
ayat sesuai dengan urutan yang tertera dalam mushaf. kemudian ia menjelaskan
kata per kata dengan sangat detail mengenai makna kata, kedudukan, uslūb
bahasa Arabnya serta aspek-aspek lainnya yang sangat luas, misalnya ketika
menjelaskan lafaz (الحمد لله) dalam
surat al-Fātihah, ia menghabiskan empat belas halaman dengan penjelasannya yang
sangat rinci dan meluas.[8] Selanjutnya, dikatakan memiliki kecenderungan
tafsir bi al-ra’yi, karena Ibnu ‘Asyūr dalam menjelaskan uraian
tafsirnya banyak menggunakan logika, yakni logika kebahasaan. Selain itu,
secara eksplisit, ia mengatakan bahwa dalam menulis tafsirnya, Ibnu ‘Asyūr
ingin mengungkap sisi kebalagahan al- Qur’an. Sedangkan corak penafsiran tafsir
ini merupakan tafsir Adab al-Ijtima’i, yakni karya tafsir yang
mengungkap ketinggian bahasa al-Qur’an serta mendialogkannya dengan realitas
sosial kemasyarakatan.
Adapun metode teknis atau langkah-langkah penulisan tafsir yang ditempuh
oleh Ibnu ‘Asyūr ini dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Menjelaskan nama, jumlah, serta spesifikasi makkiy-madaniy
sebuah surat. Dalam menjelaskan nama surat, Ibnu ‘Asyūr biasanya merujuk pada
sebuah hadis, perkataan sahabat, tabiin, atau beberapa mufassir klasik seperti
al-Qurtubi, al-Suyuthi, dan lain sebagainya. Misalnya ketika menjelaskan surat
nama surat al-Zumar, Ibnu ‘Asyūr,mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh
Imam Tirmizi dari ‘Aisyah.
سُمِّيَتْ سُورَةَ
الزُّمَرِ مِنْ عَهْدِ النَّبِيءِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدْ رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الزُّمَرَ وَبَنِي
إِسْرَائِيلَ.[9]
2.
Menguraikan
tujuan-tujuan al-Qur’an yang terdapat dalam sebuah surat. Ibnu
‘Asyūr, di
setiap awal penjelasan surat dalam tafsirnya menguraikan tujuan-tujuan yang
terkandung dalam sebuah surat tersebut.[10]
3. Mengemukakan asbāb al-nuzūl ayat.
Setelah menjelasakan nama surat dan hal-hal yang berkaitan dengannya, Ibnu ‘Asyūr,
mengungkap asbāb al-nuzūl untuk
ayat-ayat yang memang memiliki asbāb al-nuzūl. Dalam menjelaskan asbāb
al-nuzūl ini, Ibnu ‘Asyūr, adakalanya mengutip sebuah hadis dari Nabi atau
kisah yang disampaikan oleh para sahabat.
4.
Menganalisis makna serta kedudukan kata dalam bahasa
Arab. Analisis kata per kata dan menjelaskan ketinggian nilai bahasa al-Qur’an
adalah metode yang paling sering digunakan oleh Ibnu ‘Asyūr, dalam tafsirnya.
Bahkan di setiap menjelaskan suatu ayat, Ibnu ‘Asyūr, tidak lepas dari analisis
kata yang merupakan ciri khas dari tafsirnya.
D.
Kontribusi Tafsir Ibnu ‘Asyūr dalam Pengembangan Tafsir
Jika ditilik dari perkembangan tafsir di era kontemporer, karya tafsir Ibnu
‘Asyūr ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan gayanya yang khas, tafsir
ini telah menyumbangkan beberapa pemikiran yang cukup inovatif. Sebagaimana
diungkapkan oleh Abdul Mustaqim dalam karyanya Epistemologi Tafsir
Kontemporer, bahwa paradigma tafsir kontemporer meniscayakan kritisisme,
objektivitas, dan keterbukaan bahwa produk penafsiran itu tidaklah kebal dari
kritik.[11]
E. Contoh Penafsiran Ibnu ‘Asyūr
نُودِيَ النَّبِيءُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَصْفِهِ فِي
حَالَةٍ خَاصَّةٍ تَلَبَّسَ بِهَا حِينَ نُزُولِ السُّورَةِ. وَهِيَ أَنَّهُ
لَمَّا رَأَى الْمَلَكَ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرِقَ مِنْ رُؤْيَتِهِ
فَرَجَعَ إِلَى خَدِيجَةَ فَقَالَ: دَثِّرُونِي دَثِّرُونِي، أَوْ قَالَ:
زَمِّلُونِي، أَوْ قَالَ: زَمِّلُونِي فَدَثِّرُونِي، عَلَى اخْتِلَافِ
الرِّوَايَاتِ، وَالْجَمْعُ بَيْنَهَا ظَاهِرٌ فَدَثَّرَتْهُ فَنَزَلَتْ: يَا
أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ.وَقَدْ مَضَى عِنْدَ قَوْلِهِ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا
الْمُزَّمِّلُ [الْمُزَّمِّلُ: ۱] مَا فِي هَذَا النِّدَاءِ مِنَ التَّكْرِمَةِ
وَالتَّلَطُّفِ.
والْمُدَّثِّرُ: اسْمُ فَاعِلٍ مِنْ
تَدَثَّرَ، إِذَا لَبِسَ الدِّثَارَ، فَأَصْلُهُ الْمُتَدَثِّرُ أُدْغِمَتِ
التَّاءُ فِي الدَّالِ لِتَقَارُبِهِمَا فِي النُّطْقِ كَمَا وَقَعَ فِي فِعْلِ
ادَّعَى.[13]
Penafsiran Ibnu ‘Asyūr tentang surat al-Muddatstsir ayat 1-2, Penafsiran beliau yaitu “Allah
memanggil Nabi Muḥammad dengan suatu sifat yang khusus baginya yang berada di
langit dan bumi, kemudian malaikat merukyah Nabi, dan kemudian Nabi pulang
menemui Khajidah dengan gemetar dan Nabi berkata: datsiruni-datsiruni,
atau zammiluni. Ada yang mengatakan zammiluni fadatstsiruni, pada
perbedaan riwayat yaitu panggilan yang mulia untuk Nabi Muhammad SAW.
Al-mudatsir menjadi isim fa’il dari kata tadatstsara yang berarti
apabila memakai selimut. Asal kata al-mudatsir adalah al-mutadatstsiru
dengan mengidzghamkan atau menghilangkan huruf ta’, yang
menunujukkan kedekatak antara huruf ta’ dan huruf dzal, serta
mempermudah dalam pengucapan lafal.
Dalam
penafsiran beliau pada surat Al-Muddatstsir 1-2 yaitu beliau menyebutkan asbabun
nuzulnya sebelu menafsirkan ayat, kemudian dilanjutkan dengan menjelaskan kata
perkata yaitu lafal ayat-ayat dalam surat tersebut secara panjang lebar. Di
dalam panafsirannya tersebut juga terdapat munasabah surat, yakni surat al-Muddatstsir dengan surat al-Muzzammil dimana awal kedua surat tersebut
terdapat nida’ yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw.
وَاسْمُ الْإِشَارَة مُبْتَدأ و
(الْكتاب) خَبَرًا. وَعَلَى الْأَظْهَرِ تَكُونُ الْإِشَارَةُ إِلَى الْقُرْآنِ
الْمَعْرُوفِ لَدَيْهِمْ يَوْمَئِذٍ وَاسْمُ الْإِشَارَة مُبْتَدأ و (الْكتاب)
بَدَلٌ وَخَبَرُهُ مَا بَعْدَهُ، فَالْإِشَارَةُ إِلَى (الْكِتَابِ) النَّازِلِ
بِالْفِعْلِ وَهِيَ السُّوَرُ الْمُتَقَدِّمَةُ عَلَى سُورَةِ الْبَقَرَةِ لِأَنَّ
كُلَّ مَا نَزَلْ مِنَ الْقُرْآنِ فَهُوَ الْمُعَبَّرُ عَنْهُ بِأَنَّهُ
الْقُرْآنُ وَيَنْضَمُّ إِلَيْهِ مَا يَلْحَقُ بِهِ، فَيَكُونُ (الْكِتَابُ) عَلَى
هَذَا الْوَجْهِ أُطْلِقَ حَقِيقَةً عَلَى مَا كُتِبَ بِالْفِعْلِ، وَيَكُونُ
قَوْلُهُ (الْكِتَابِ) عَلَى هَذَا الْوَجْهِ خَبَرًا عَنِ اسْمِ الْإِشَارَةِ،
وَيَجُوزُ أَنْ تَكُونَ الْإِشَارَةُ إِلَى جَمِيعِ الْقُرْآنِ مَا نَزَلَ مِنْهُ
وَمَا سَيَنْزِلُ لِأَنَّ نُزُولَهُ مُتَرَقَّبٌ فَهُوَ حَاضِرٌ فِي الْأَذْهَانِ
فَشَبَّهَ بِالْحَاضِرِ فِي الْعِيَانَ، فَالتَّعْرِيفُ فِيهِ لِلْعَهْدِ
التَّقْدِيرِيِّ وَالْإِشَارَةُ إِلَيْهِ لِلْحُضُورِ التَّقْدِيرِيِّ فَيَكُونُ
قَوْلُهُ (الْكِتَابَ) حِينَئِذٍ بَدَلًا أَوْ بَيَانًا مِنْ ذلِكَ وَالْخَبَرُ
هُوَ لَا رَيْبَ فِيهِ.[15]
Penafsiran Ibnu ‘Asyūr dalam awal surat al-Baqarah
dijelaskan secara panjang lebar tentang lafal al-kitāb. Pada penafsiran
tersebut dijelaskan isim isyārah (ذلِكَ) menjadi mubtada’ sedangkan khabarnya
adalah lafal al-kitāb dan setrusnya lafal al-kitāb dijelaskan
secara panjang lebar baik dari segi bahasa maupun sastra yang menjadi ciri khas
tafsirnya.
إِنَّمَا
حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ
بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ
عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ.[16]
وَأَمَّا جِلْدُ الْمَيْتَةِ فَلَهُ
شِبْهٌ مِنْ جِهَةٍ ظَاهِرِهِ كَشِبْهِ الشَّعْرِ وَالصُّوفِ، وَمِنْ جِهَةِ
بَاطِنِهِ كَشِبْهِ اللَّحْمِ، وَلِتَعَارُضِ هَذَيْنِ الشِّبْهَيْنِ اخْتَلَفَ
الْفُقَهَاءُ فِي الِانْتِفَاعِ بِجِلْدِ الْمَيْتَةِ (۱) إِذَا دُبِغَ فَقَالَ
أَحْمَدُ ابْن حَنْبَلٍ: لَا يَطْهُرُ جِلْدُ الْمَيْتَةِ بِالدَّبْغِ، وَقَالَ
أَبُو حَنِيفَةَ وَالشَّافِعِيُّ: يَطْهُرُ بِالدَّبْغِ مَا عَدَا جِلْدَ
الْخِنْزِيرِ لِأَنَّهُ مُحَرَّمُ الْعَيْنِ، وَنُسِبَ هَذَا إِلَى الزُّهْرِيِّ،
وَأَلْحَقَ الشَّافِعِيُّ جِلْدَ الْكَلْبِ بِجِلْدِ الْخِنْزِيرِ، وَقَالَ
مَالِكٌ يَطْهُرُ ظَاهِرُ الْجِلْدِ بِالدَّبْغِ لِأَنَّهُ يَصِيرُ صُلْبًا لَا يُدَاخِلُهُ
مَا يُجَاوِرُهُ، وَأَمَّا بَاطِنُهُ فَلَا يَطْهُرُ بِالدَّبْغِ وَلِذَلِكَ
قَالَ: يَجُوزُ اسْتِعْمَالُ جِلْدِ الْمَيْتَةِ الْمَدْبُوغِ فِي غَيْرِ وَضْعِ
الْمَاءِ فِيهِ، وَمَنَعَ أَنْ يُصَلَّى بِهِ أَوْ عَلَيْهِ، وَقَوْلُ أَبِي
حَنِيفَةَ أَرْجَحُ لِلْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ النَّبِيءَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ رَأَى شَاةً مَيْتَةً كَانَتْ لِمَيْمُونَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ
فَقَالَ «هَلَّا أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ[17]»[18]
Ibnu ‘Asyūr dinilai
sebagai ulama yang objektif. Meskipun ia menganut mazhab Māliki, ia tetap
menekankan budaya objektivitas dalam karyanya. Sebagaimana diungkap di awal
bahwa salah satu ciri penafsiran kontemporer adalah penafsiran non-sektarian
atau dengan kata lain seorang penafsir tidak boleh terjebak dalam kungkungan
mazhab atau kelompok tertentu. Ibnu ‘Asyūr meskipun bermazhab Māliki, ia tetap berusaha objektif
dalam karya tafsirnya. Barangkali inilah salah satu kontribusi Ibnu ‘Asyūr dalam
pengembangan tafsir, bahwa seseorang penafsir sah-sah saja menganut suatu
mazhab asalkan mengetahui dalil-dalil dari suatu hukum atau suatu pandangan
dari mazhab yang dianutnya serta selalu melakukan penelitian ulang
dan memilih pendapat yang paling benar berdasarkan dalil-dalil yang ada. Salah
satu sikap objektif yang ditunjukkan oleh Ibnu ‘Asyūr dalam
karya tafsirnya adalah ketika beliau mentarjiḥ (mengunggulkan)
mazhab yang berseberangann dengan mazhabnya sendiri.
Contohnya adalah ketika
beliau menjelaskan
kata (الْمَيْتَةَ) dalam surat
al-Baqarah ayat 173 di atas, setelah menjelaskan keharaman memakai bangkai binatang,
Ibnu ‘Asyūr masuk kepada penjelasan penggunaan kulit binatang. Ibnu ‘Asyūr menguraikan
pendapat keempat Imam mazhab yakni Hanbali, Syāfi’iy, Hanafi dan Māliki. Imām Aḥmad
ibn Hanbal mengatakan bahwa kulit bangkai binatang tidak bisa suci meskipun
disamak (dibersihkan dengan bahan pekat seperti daun pohon ara). Imām Syāfi’iy
mengatakan bahwa kulit binatang bisa suci apabila dibersihkan (disamak) kecuali
kulit babi dan anjing. Sedangkan Imām Abū Hanīfah mengatakan bahwa kulit
bangkai itu bisa suci asal dibersihkan (disamak) kecuali daging babi. Pendapat Imām
Abū Ḥanīfah ini disandarkan kepada sebuah hadis dari al-Zuhriy sedangkan yang
lain tidak ada sandaran hadisnya.
Di akhir penjelasannya, Ibnu ‘Asyūr mengatakan bahwa
pendapat yang paling kuat dari keempat mazhab tersebut adalah pendapat Imām Abū
Ḥanīfah karena disandarkan kepada sebuah riwayat hadis. Sedangkan pendapat yang
lain tidak ada dalil hadisnya, termasuk Imām Māliki yang notabene dianut oleh
Ibnu ‘Asyūr. Dari penjelasan ini dapat dikatakan bahwa Ibnu ‘Asyūr dengan karya
tafsirnya memberikan andil yang cukup signifikan dalam hal objektifitas
menafsirkan al-Qur’an. Jadi untuk bersikap objektif, seorang mufassir
tidak perlu meninggalkan mazhab yang dianutnya akan tetapi sikap objektif itu
bisa dicapai dengan ilmu yang memadai serta tekad yang kuat untuk mengungkap
kebenaran al-Qur’an sebagaimana tercermin dari sikap Ibnu ‘Asyūr dalam
tafsirnya.
F. Kelebihan dan KekuranganTafsir
Karya Ibnu ‘Asyūr
Di antara kelebihan Kitab
Tafsīr al-Taḥrīr
wa al-Tanwīr adalah
bahasan dari kata-kata al-Qur’an yang sangat luas dan terperinci. Pembahasan di
dalamnya disesuaikan dengan pokok bahasan yang ada dalam al-Qur’an. Apabila ayat
tersebut berhubungan dengan ilmu fiqih, maka Ibnu ‘Asyūr menjelaskan permasalahan fiqih beserta perbincangan
ulama mengenainya. Ibnu ‘Asyūr dalam membahas masalah fiqih biasanya menguraikan semua pendapat
ulama’ dan kemudian memilih yang paling kuat berdasarkan dalil yang ia ajukan.
Selain itu, tafsir ini memiliki kelebihan dalam hal pembahasan tentang
keindahan susunan bahasa al-Qur’an. Ibnu ‘Asyūr juga seringkali mengaitkan bahasannya dengan masalah akhlak. Hal ini menjadikan tafsir ini sebagai pedoman bagi manusia dalam
berakhlak baik dengan Tuhan, manusia, serta makhluk hidup di sekitar kita.
Sedangkan kekurangan dari karya tafsir ini sama dengan
karya tafsir dengan metode taḥliliy lainnya, yakni terkesan bertele-tele. Penjelasannya terlalu
melebar sehingga poin yang ingin disampaikan kadang sulit ditangkap. Kitab ini sangat cocok untuk kalangan yang sudah memiliki ilmu
pengetahuan yang cukup memadai untuk keperluan akademis. Untuk masyarakat awam,
kitab ini akan terasa sulit dipahami dan tidak praktis karena penjelasannya
terlalu luas. Kekurangan lain dari tafsir karya Ibnu ‘Asyūr adalah banyak kutipan-kutipan
hadis yang tidak disertai dengan penyebutan kualitas hadis sehingga hadis-hadis
yang dijadikan rujukan masih perlu dilihat kembali apakah hadis tersebut berkedudukan
shaḥīḥ atau dla’īf dan lain sebagainya.
III. Kesimpulan
Kitab tafsir Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr merupakan
tafsir kontemporer yang dikarang oleh Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr al-Tūnisiy. Beliau merupakan seorang ulama di
Tunisia. Metode Penafsiran yang digunakan Ibnu ‘Asyūr dalam kitab tafsir Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr adalah metode taḥliliy
karena ibnu ‘Asyūr dalam menafsirkan ayat al-Qur’an secara terperinci dimulai dari
ayat pertama (al-Fātiḥah) sampai akhir sesuai urutan musḥafi. Corak
penafsiran dalam kitab tafsir ini adalah dengan tafsir bi al-ra’yi yaitu
dengan menggunakan aspek kebahasaan. Walaupun demikian beliau juga, menafsirkan
Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, dengan Hadits, perkataan sahabat pandangan ulama,
dan ke semua itu adalah untuk menjadi pendukung pendapat mufassir.
Sedangkan pendekatan yang beliau gunakan adalah adabi atau sastra,
karena beliau lebih banyak menjelaskan kajian kebahasaan yaitu gramatikal dan
sastra, beliau juga lebih menjelaskan kata perkata dalam lafazh Al-Qur’an dan
mengungkapkan makna-makna suatu mufradāt dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Daftar Pustaka
Al-Qur’ān al-Karīm
Abdul Mustaqim. EpistemologiTafsir
Kontemporer. Yogyakarta: LKIS. 2010. hal. 84.
Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir
ibn ‘Asyūral-Tūnisiy.
al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (Tahrīr al-Ma’nā al-Sadīd wa Tanwīr al-‘Aql al-Jadīd
min Tafsīr Kitāb al-Majīd). Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah Li al-Nasyr. 1984.
Munī’ ibn ‘Abd al-Ḥalīm Maḥmūd. Manāhij al-Mufassirīn.
Kairo: Dār al-Kitāb al-Miṣriy. 2000.
Muslim ibn al-Ḥajjāj Abū al-Ḥasan al-Qusyairiy
al-Naisābūriy. al-Musnad al-Mukhtashar bi Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl ilā
Rasūlillāh Shalla Allah`Alaihi wa Sallam. Beirūt: Dār Iḥyā’ al-Turāts
al-‘Arabiy, ttp
https://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Zaitunah
[1] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūral-Tūnisiy,
al-Taḥrīr wa al-Tanwīr (Tahrīr al-Ma’nā al-Sadīd wa Tanwīr al-‘Aql al-Jadīd
min Tafsīr Kitāb al-Majīd, (Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah Li al-Nasyr, 1984).
[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Zaitunah
[3] Munī’ ibn ‘Abd al-Ḥalīm Maḥmūd, Manāhij al-Mufassirīn, (Kairo: Dār
al-Kitāb al-Miṣriy, 2000), hal. 333-334.
[12] QS. al-Muddatstsir [74]: 1-2.
[15] Muḥammad al-Thāhir ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Thāhir ibn ‘Asyūr, juz 1,
hal. 219.
[16] QS. al-Baqarah
[2]: 173
[17] Lihat hadis tersebut pada karya, Muslim ibn al-Ḥajjāj Abū al-Ḥasan
al-Qusyairiy al-Naisābūriy, al-Musnad al-Mukhtashar bi Naql al-‘Adl ‘an
al-‘Adl ilā Rasūlillāh Shalla Allah`Alaihi wa Sallam, no. 363 (Beirūt: Dār Iḥyā’ al-Turāts al-‘Arabiy, ttp),
juz 1, hal. 276